Meneladani Nabi, Menjaga Amanah Demokrasi
Oleh: OYANG ESTE BINOS Ketua Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM KPU Kabupaten Purwakarta Beranda media sosial kita hari ini dipenuhi banyak template peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, cukupkah dengan membuat status di sosial media atau menggelar seremoni, kita termasuk ke dalam golongan pecinta Nabi. Hemat saya, tidak cukup. Kecintaan harus mewujud. Memiliki bukti. Yakni berupaya mengejawantah perilaku Nabi dalam kehidupan kita sehari-hari. Di rumah, di tempat kerja, hingga di ruang-ruang lain, ruang privat maupun ruang publik. Bagi penyelenggara pemilu, Maulid bisa menjadi ruang untuk bercermin: sejauh mana nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW hadir dalam menjalankan tugas menjaga suara rakyat. Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Keteladanan itu bukan hanya tentang kehidupan pribadi, tetapi juga bagaimana beliau menjalankan amanah, memperlakukan manusia dengan adil, dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab. Bagi KPU, amanah itu sangat konkret. Ada jutaan data pemilih yang harus dijaga, ada hak warga negara yang harus dilindungi, dan ada proses demokrasi yang harus diselenggarakan dengan jujur dan adil. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58). Karena itu, menjadi penyelenggara pemilu bukan sekadar pekerjaan administratif. Di balik angka dalam daftar pemilih terdapat manusia. Di balik surat suara terdapat pilihan warga negara. Dan di balik setiap keputusan penyelenggara terdapat kepercayaan publik. Kesalahan kecil dalam menjalankan amanah bisa berdampak besar terhadap kepercayaan masyarakat. Nilai berikutnya adalah keadilan. Al-Qur’an mengingatkan, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Dalam konteks pemilu, keadilan berarti memperlakukan semua peserta dan pemilih secara setara. Tidak boleh ada keberpihakan karena kedekatan, tekanan, kepentingan, atau preferensi politik. Di tengah derasnya informasi, keteladanan Nabi juga mengajarkan pentingnya kehati-hatian. Al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan tabayun ketika menerima sebuah berita (QS. Al-Hujurat: 6). Prinsip ini sangat penting bagi penyelenggara pemilu. Hoaks, potongan informasi, dan narasi yang belum tentu benar dapat dengan cepat memengaruhi masyarakat. Karena itu, keputusan harus berdiri di atas data dan fakta, bukan asumsi atau tekanan opini. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap orang yang memegang tanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban. Hadits “Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Muslim) seharusnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang menerima amanah, termasuk penyelenggara pemilu. Pada akhirnya, Maulid Nabi mengajarkan satu hal sederhana: jabatan adalah amanah, bukan keistimewaan. Bagi KPU Kabupaten Purwakarta, semangat itu dapat diwujudkan dengan bekerja profesional, menjaga independensi, terbuka terhadap kritik, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sebab demokrasi yang baik tidak hanya membutuhkan aturan yang baik. Ia juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas untuk menjalankan aturan tersebut. Dan mungkin di situlah relevansi terbesar Maulid Nabi bagi penyelenggara pemilu: meneladani kejujuran Rasulullah untuk menjaga kepercayaan rakyat, meneladani keadilannya untuk menjaga setiap suara, dan meneladani amanahnya untuk memastikan demokrasi tetap berada di jalan yang benar. Ketika ikhtiar jujur, adil, dan amanah ini terus diupayakan oleh KPU, dan diasah paling tidak setiap peringatan maulid Nabi, maka penyelenggaraan pemilu sebagaimana azasnya Langsung Umum Bebas Rahasia Jujur dan Adil (Luber Jurdil) bisa terwujud. Dengan begitu, proses demokrasi akan jauh menjadi lebih sehat dan berkualitas. Proses demokrasi yang baik, dipastikan akan melahirkan pemimpin yang baik pula. Hasil tidak pernah mengkhianati proses. Tidak lupa, ikhtiar langit juga tidak boleh dilewatkan. Doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan. Demikian halnya niat baik. Agar apa yang kita lakukan, tidak hanya menghasilkan posisi yang baik di hadapan publik, tapi juga di hadapan sang Khaliq.